Selasa, 07 Mei 2013

Cerita "Hadiah sederhana untuk Jennifer Hanna"



                    Hadiah sederhana untuk Hanna 

          Aku berjalan menuju sekolahku. Pagi itu masih segar udaranya. Beberapa teman melewatiku
dengan sepedanya. Aku percepat langkahku. Setelah melewati sebuah supermarket berlabel
Tujuh11, aku bertemu dengan seorang wanita memakai seragam yang sama dengan sekolahku.
Rambutnya panjang, wajahnya manis

“Hanna:).” Sapaku pada wanita itu.
“Hei...” Balas Hanna.
“Han, udah ngerjain PR matematika?” Tanyaku.
“Baru selesai 15 nomer, abisnya susah.”
“Iya sih, MATEMATIKA, Makin Tekun Makin Tidak Karuan ya, Han.”
“Hahaha lucu banget sih kamu.” Ucap Hanna.
“Emanganya Badut, lucu.” Balasku.

          Aku dan Hanna berjalan bersama. Kini aku dan Hanna memasuki gerbang sekolah. Aku
menghampiri teman-temanku dikantin dan Hanna menghampiri temannya di lorong sekolah. Bel
sekolah berbunyi. Aku segera kekelasku yang dilantai dua.
          Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk terbuai lamunan. Melihat Hanna yang duduk di
depanku, membuat rasa ingin memanggil namanya. Ibu guru menyebut absen murid kelas.

“Jennifer Hanna?” Panggil ibu Guru. Aku dan Hanna mengangkat tangan bersamaan.
“Ciiee Cieeee. Yang dipanggil satu, yang nyaut, duaaaa.”Sahut Teman" di kelas.
“Sudah, sudah.” Bu Guru menenangkan.
“Eh, Han, maaf yah.” Ucapku.
“Iyaa, gapapa kok.” Balas Hanna sambil tersenyum.

           Pelajaran dimulai, Hanna masih sesekali menoleh kebelakang dan senyum padaku. Dan Rina
pun juga meledek.

           Bel istirahan berbunyi. Aku keluar dari mejaku, begitu juga Hanna. Saat aku berjalan, aku
sempat menabrak ia yang didepanku. Ia membalikkan badannya dan tersenyum. Ah, kenapa harus
tersenyum padaku? Membuat aku ingin mimisan saja melihat senyumnya yang manis.
           Kantin siang itu cukup ramai. Aku duduk bersama teman-temanku didekat tembok. Hanna
duduk dengan Rina Sahabatnya di tengah. Dari tempat dudukku, masih bisa terdengar suara Hanna dan Rina.

“Rina makan Mie, Hanna makan ayam, jadi Mie-Ayam.” Ucap Rina.
“Terus, rin??” Tanya Hanna
“Jadi kita samaan. Toss!” Rina menepuk tangan Hanna.
“Dasar singit, Rina.. Rina..” Ucap Hanna.
“Emang layangan koang, singit.” Balas Rina.

        Saat Hanna sedang mengambil kecap, Rina mencolek Hanna.
“Han, mau liat orang gila gak?” Tanya Rina.
“Siapa?”
“Tuh.” Rina menunjuk kearahku.

        Hanna melambaikan tangan ke arahku. Senang bukan main pastinya diriku. Hanna
melanjutkan senyumnya, ia kemudian menunjuk tangannya ke arah gelasku. Ah, pantas saja Rina
bilang aku orang gila, ternyata aku memasukkan saos ke gelas es jerukku. Hanna dan Rina masih
mentertawaiku.

        Setelah jam pelajaran terakhir, aku dan murid-murid sekolah berkerumunan keluar sekolah.
Saat aku sedang berjalan, dari belakang, temanku menepuk pundakku.

“Sepedanya udah ada tuh.” Ucap temanku.
“Mana?” Tanyaku.
“Dibelakang sekolah, kok tumben sih pengen naik sepeda?”
“Gapapa, biar ada kenangannya aja.”

         Aku dan temanku ke halaman sekolah untuk mengambil sepedanya. Aku cek rantai dan rem
sepeda itu. Setelah kuperiksa aman, aku bawa sepeda itu.
         Ku kayuh sepeda itu. Rasanya cukup nyaman. Di ujung jalan kulihat ada Hanna.

“Han..” Panggilku.
“Eh, itu sepeda siapa?”
“Bareng yuk, mau gak?”
“Hem , tapi...”
“Tapi kan Hanna kalo jalan kaki capek, yuk.” Ajakku.

         Hanna duduk dibelakang dengan posisi miring. Ia memangku tasnya. Aku terus mengayuh
sepedaku.
Sampai sudah dirumah Hanna.

“Makasih yah.” Ucap Hanna sambil tersenyum.
“Iya sama-sama, eh, Han.”
“Ya?”
“Kalo besok pagi, bareng lagi kesekolah, terus pulangnya temenin ke toko buku mau gak?
Tanyaku.
“Hem... Mau sih. Besok pagi ketemu dimana?”
“Didepan rumahmu, gimana?”
“Oke, sampai besok yah.”

          Aku hanya membalas senyum manis Hanna dan pergi dari rumahnya. Hanna masuk ke dalam
pagar dan melambaikan tangannya padaku.

*

          Pagi itu masih terasa sejuk. Aku sudah tiba didepan rumah Hanna. Ia sudah berdiri sambil
memakai cardigans berwarna biru. Ia tersenyum dan langsung duduk di bagian belakang sepeda.
Perjalanan sepeda pagi cukup menarik, mulai membahas PR Bahasa Indonesia.

“Han, udah ngerjain PR bikin cerpen?” Tanyaku.
“Udah dong, judulnya Sepeda Untuk Berdua, kamu?” Tanya Hanna.
“Udah, judulnya Hari Pertama.” Jawabku.
“Hihihi.” Hanna tertawa lucu.
“Kok ketawa?”
“Iya, kalo cerpen kita berdua digabung, Hari Pertama Sepeda Untuk Berdua, itukan kemarin.”

          Aku merasa sangat senang saat Hanna bicara seperti itu. Semua terasa sangat indah, seolah
dunia hanya milik berdua, sampai akhirnya....

“Cieee.... Sepedaan berdua.” Rina datang dari belakang naik ojek motor.
“Duh, Rina.” Ucapku pelan.
“Apa lu? Duh aduh, emangnya Rina kenapa?” Tanya Rina.
“Kayak yang malem Jumat, masa tiba-tiba nongol.” Jawab Hanna.
“Ciee, Rina naik ojek motor, kalo Hanna naik ojek cinta, dadaaahh.” Balas Rina.

          Rina dan ojeknya langsung melaju cepat setelah meledek aku dan Hanna.
Kini gerbang sekolah telah terlihat, Hanna turun dari sepeda dan masuk duluan. Aku menaru
sepdeda dan merantai dan gembok dekat pagar halaman sekolah.

*

           Pulang sekolah ditandai dengan bel. Hanna menungguku di depan sekolah. Aku mengeluarkan
sepeda dan kami naiki sepeda itu berdua.
           Aku dan Hanna menuju toko buku dekat komplek rumah kami.
           Sesampainya, aku langsung menuju rak buku mancanegara, dan mengambil buku berjudul
U.S.A. Setelah kubaca beberapa halaman, aku kembali menghampiri Hanna.

“Beli buku nggak, Han ?” Tanyaku.
“Enggak, liat majalah aja, kamu?”
“Tadi Cuma mau baca buku doang bentar, eh makan yuk.”
“Dimana?”
“Udah ntar pasti suka.”

          Di sebrang toko buku itu ada sebuah cafe kecil. Di cafe itu tertuliskan “Warung Pemadam
Kelaparan”. Aku dan Hanna duduk di depan dekat jalanan. Angin sore mulai terasa.

“Mau makan apa, Han?” Tanyaku
“Hem disini yang spesial apa?”
“Kalo yang spesial disini, tumis kaktus, kucing saus tiram, tapi kalo yang spesial dihatiku ya kamu.”
“Gombal.” Balas Hanna sambil tertawa.
“Gombal mah yang dipinggir jalan.” Balasku.
“Itu Gembel.” Balas Hanna.
*

           Sore mulai menyapa, aku dan Hanna masih bersepeda. Saat bersepeda menuju jalan pulang,
ada sebuah turunan yang curam di depanku.

“Han, berani gak?” Tanyaku.
“Turunan doang? Berani lah.”
“Tapi gak pake rem.”
“Terus berentinya gimana?”
“Detak jantung kita yang berentiin.”
“Mati iyadeh.”
“Berani gak, Han?”
“Siapa takut.” Balas Hanna sambil memelukku.

            Aku hanya mendorong sedikit sepedaku dan sepeda melaju kencang, kurasa angin
menghembus kemejaku. Pelukan Hanna dari belakang makin erat. Aku merasakannya. Kami berdua
berteriak.
            Saat sampai diujung turunan, aku menekan rem. Aku dan Hanna masih mengatur nafas karena
sepeda kami terlalu kencang tadi. Hanna turun dari belakang sepeda dan berdiri di sebelahku.

“Hah, gila, tegang banget yah.” Ucap Hanna.
“Iya, Han.” Balasku.
“Itu hidungnya kenapa?”
“Ha?” Aku memegang hidungku dan ada cairan berwarna merah.
“Ih, kok mimsan, nih tissue.” Hanna memberikan tissue padaku.
“Yah, mimisan deh.” Jawabku sambil mengelap darah dihidung.
“Iya, kok bisa deh?”
“Abisnya, tadi Hanna meluknya kenceng banget.”
“Terus?”
“Terus, akunya seneng banget.”
“Ih... Bodoh deh.” Balas Hanna sambil mencubiti aku.

Kami berdua jalan bersama sambil menenteng sepeda dan bergandengan tangan sore itu.

*

            Suasana kelas kosong pagi itu cukup ramai. Aku di depan pintu kelas bersama teman-temanku,
Rina yang sedang duduk sendiri dikursinya, dihampiri Hanna.

“Rin, aku mau curhat dong.” Minta Hanna.
“Manteepp, pasti curhatin pria ojek cinta itu kan?”
“Apaan sih, eh tapi ya, kemarin tuh seru banget gue sama dia, makan bareng, pulang bareng.”
“Cie Hanna jatuh cinta.” Ledek Rina.
“Ah, mungkin bagi dirinya hanya teman sekelas saja, yang jalan pulangnya searah.” Lanjut Hanna.
“Keberadaannya seperti angin ya? Kayak numpang lewat gitu?”
“Iya, Rin. Kadang selalu bercanda, padahal kita selalu saling bicara.” Lanjut Hanna.
“Kenapa gak ngomong aja?” Tawar Rina.
“Ngomong apa?”
“Ngomong ke dia, tentang perasaannya Lu, daripada nyesel.” Tantang Rina ke Hanna.
“Gak tau deh, Rin. Bingung.” Jawab Hanna.

*

           Aku menenteng sepedaku, Hanna berjalan di sebelahku. Pagar rumah Hanna terlihat. Aku
berdiri di depan rumahnya.

“Han, boleh minta tolong gak?”
“Apa?”
“Sepeda ini besok kamu yang bawa yah kesekolah.”
“Lho, kenapa?”
“Gapapa sih, besok kayaknya aku telat, mau ya?”
“Yaudah deh, mampir gak?” Tawar Hanna.

          Ini adalah kali pertama Hanna menawari aku untuk mampir kerumahnya. Aku mengiyakan
ajakannya.
          Aku duduk diteras , Hanna keluar dari dalam rumah membawakan sirup berwarna merah dan
makanan kecil.

“Han, enak yah sore-sore disini, hehe.” Ucapku.
“Enak pemandangannya, apa sama aku?” Tanya Hanna.
“Hem.. Pemandangan indah, bisa tambah indah tergantung sama siapa nikmatinnya.”
“Emang kenapa sih sama sepedanya?” Tanya Hanna.
“Gapapa, pokoknya besok Hanna bawa yah ke sekolah.”

            Setelah menghabiskan minum, aku pamit pada Hanna untuk pulang. Kebetulan orang tua
Hanna sedang tidak dirumah, jadi aku tidak berpamitan pada mereka.
Aku keluar pagar dan masih tersenyum pada Hanna.

            Saat Hanna sedang melihat sepeda itu, ia menemukan sepucuk surat yang terselip di kursi
belakang, di surat itu tertulis, “baca dikelas yah, Hanna.”

*

           Hanna mengayuh sepeda itu sendirian menuju sekolah, tanpa diriku. Sesampainya dikelas, ia
membuka surat itu. Dibacanya surat dengan tulisan tanganku.

Hanna, maaf aku gak bisa ngomong langsung.
Sepedanya gimana? Enak kan?
Hem... Maaf, mulai semalam aku mau pindah ke U.S.A.
Aku minta maaf banget sama kamu, aku gak bisa ngomong langsung, aku benci perpisahan.
Aku harap kamu bisa ngerti, Han.
Aku nyaman kalo ada di dekat kamu, berdua sama kamu.
Maafkanlah Hanna, ampunilah diriku ini yang tidak menyatakan cinta, aku adalah lelaki yang jahat.
Aku gak kemana-mana kok, cuma beda jarak aja sama kamu, sepeda itu tetep ada buat kamu.
Kalo kamu baca surat ini, kamu pasti udah nyobain rasanya naik sepeda itu tanpa aku.
Aku harap kamu betah naik sepeda itu, sampai... two years later, pas aku balik, buat kamu

            Hanna meneteskan air mata saat membaca surat itu. Lalu ia menengok ke belakang, tempat
dimana aku biasa duduk di kelas. Rina yang heran melihat Hanna bersedih, langsung segera
menghampiri ke meja Hanna.
            Hanna tidak berkata sedikitpun saat Rina menghampirinya, Rina mengambil surat di tangan
Hanna, lalu membacanya. Rina menengok ke meja belakang, lalu tersenyum.

                                                            "TAMAT"

Creative by: @andreas0048
Special for @hanna_JKT48